Etika dan Prompting AI dalam Penyusunan Modul Ajar (Makalah)
Dunia pendidikan tengah berhadapan dengan gelombang inovasi teknologi yang tak terhindarkan, salah satunya adalah kecerdasan buatan (AI). Kehadiran AI, khususnya dalam bentuk Large Language Models (LLMs) seperti ChatGPT atau Gemini, telah membuka cakrawala baru dalam berbagai aspek, termasuk penyusunan modul ajar. Bagi guru-guru SMA/MA, AI menawarkan potensi luar biasa untuk meringankan beban kerja administratif dan memberikan lebih banyak waktu untuk berinteraksi langsung dengan peserta didik. Namun, seiring dengan kemudahan yang ditawarkan, penggunaan AI juga membawa serta tantangan etika dan kebutuhan akan pemahaman mendalam tentang prompting yang efektif agar hasilnya optimal dan berintegritas.
Modul ajar adalah jantung dari proses pembelajaran yang terstruktur. Penyusunannya memerlukan pemikiran mendalam, kreativitas, dan pemahaman yang komprehensif tentang kebutuhan peserta didik, kurikulum, serta metode pengajaran yang efektif. Dalam konteks inilah AI dapat menjadi ko-pilot yang powerful, bukan sekadar alat otomatisasi. Makalah ini akan membahas secara mendalam bagaimana guru dapat memanfaatkan AI untuk menyusun modul ajar secara etis dan efektif, berfokus pada pentingnya etika penggunaan dan strategi prompting yang tepat.
Memahami Potensi AI dalam Penyusunan Modul Ajar
AI dapat dimanfaatkan dalam berbagai tahapan penyusunan modul ajar, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Beberapa potensinya meliputi:
Generasi Ide dan Kerangka Awal : AI dapat membantu menghasilkan ide-ide pembelajaran yang inovatif, merumuskan tujuan pembelajaran, dan menyusun kerangka modul secara cepat. Misalnya, dengan memberikan prompt tentang topik tertentu dan jenjang pendidikan, AI dapat menyarankan skenario pembelajaran atau aktivitas. Pengembangan Konten Bahan Ajar : AI mampu merangkum materi pelajaran dari berbagai sumber, menyederhanakan konsep yang kompleks, atau bahkan membuat contoh soal dan latihan. Hal ini sangat membantu guru dalam menyusun bahan ajar yang relevan dan mudah dipahami. Personalisasi Pembelajaran : Meskipun masih dalam tahap awal, AI memiliki potensi untuk membantu guru mengidentifikasi gaya belajar peserta didik dan menyarankan adaptasi modul ajar agar lebih sesuai dengan kebutuhan individu. Penyusunan Rubrik Penilaian dan Instrumen Evaluasi : AI dapat membantu merumuskan indikator penilaian, membuat rubrik, atau menyusun soal-soal evaluasi berdasarkan kompetensi yang ingin dicapai. Bantuan Kreatif: AI dapat menyarankan aktivitas pembelajaran yang menarik, permainan edukasi, atau bahkan skenario drama untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik.
Potensi-potensi ini tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga memungkinkan guru untuk mengeksplorasi pendekatan baru yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.
Dimensi Etika dalam Penggunaan AI untuk Modul Ajar
Meskipun AI menawarkan banyak keuntungan, penggunaan teknologi ini dalam lingkungan pendidikan menuntut pertimbangan etika yang serius. Guru memiliki tanggung jawab profesional untuk memastikan bahwa setiap alat yang digunakan mendukung integritas akademik dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik.
Akurasi dan Verifikasi Informasi. AI generatif tidak selalu akurat. Informasi yang dihasilkan AI bisa mengandung bias, kesalahan faktual, atau bahkan “halusinasi” (informasi yang sepenuhnya salah namun disajikan dengan meyakinkan). Oleh karena itu, verifikasi faktual adalah langkah etis yang mutlak. Guru harus selalu memeriksa ulang setiap fakta, data, atau konsep yang dihasilkan AI dengan sumber-sumber terpercaya sebelum memasukkannya ke dalam modul ajar. Kegagalan dalam memverifikasi dapat menyesatkan peserta didik dan merusak kredibilitas guru.
Hak Cipta dan Plagiarisme. Model AI dilatih menggunakan data dari internet, yang mungkin termasuk materi berhak cipta. Ketika AI menghasilkan teks atau ide, ada potensi kesamaan dengan materi sumber. Meskipun AI tidak “menyalin” dalam artian tradisional, guru tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa konten yang dimasukkan ke dalam modul ajar bebas dari pelanggaran hak cipta atau plagiarisme. Gunakan AI sebagai alat bantu ide dan penulisan awal, namun pastikan untuk selalu merumuskan ulang, mengutip sumber yang relevan (jika ada materi dari sumber spesifik), dan menambahkan sentuhan orisinalitas Anda sendiri. Hindari menyalin-tempel output AI secara mentah tanpa modifikasi atau atribusi yang tepat.
Bias dan Representasi. Data yang digunakan untuk melatih AI mungkin mencerminkan bias yang ada di masyarakat atau pada data pelatihan itu sendiri. Akibatnya, AI dapat menghasilkan konten yang bias, stereotip, atau bahkan diskriminatif. Guru harus secara kritis meninjau output AI untuk mengidentifikasi dan menghilangkan bias terkait gender, ras, budaya, agama, atau kemampuan. Modul ajar harus inklusif dan merepresentasikan keragaman dengan adil dan positif.
Transparansi dan Akuntabilitas. Idealnya, guru harus transparan kepada pihak sekolah dan bahkan kepada peserta didik tentang penggunaan AI sebagai alat bantu. Ini menciptakan lingkungan yang jujur dan mendorong diskusi tentang peran teknologi dalam pembelajaran. Guru juga tetap bertanggung jawab penuh atas kualitas dan isi modul ajar yang dihasilkan, terlepas dari sejauh mana AI berperasa. AI adalah alat, bukan pengganti tanggung jawab profesional.
Privasi Data. Meskipun dalam penyusunan modul ajar tidak secara langsung melibatkan data pribadi peserta didik, penting untuk menyadari bahwa interaksi dengan platform AI melibatkan pertukaran data. Pastikan untuk menggunakan platform AI yang memiliki kebijakan privasi yang jelas dan aman. Hindari memasukkan informasi sensitif atau pribadi ke dalam prompt Anda.
Seni Prompting AI untuk Modul Ajar yang Efektif
Prompting adalah kunci untuk mendapatkan hasil maksimal dari AI. Ibarat berkomunikasi dengan asisten cerdas, semakin jelas dan spesifik instruksi yang diberikan, semakin baik pula output yang akan diterima. Berikut adalah strategi prompting yang bisa diterapkan:
Tentukan Tujuan dengan Jelas. Sebelum menulis prompt, tentukan apa yang ingin Anda capai. Apakah Anda ingin kerangka modul, bagian materi tertentu, soal latihan, atau ide aktivitas?. Contoh Jelek: “Buatkan modul ajar Kimia kelas 10 SMA/MA.” (Terlalu umum). Contoh Bagus: “Buatkan kerangka modul ajar untuk mata pelajaran Biologi kelas 10 SMA/MA dengan topik ‘Sistem Pernapasan Manusia’, mencakup tujuan pembelajaran, materi inti, dan aktivitas awal.”
Berikan Konteks yang Cukup. AI tidak memiliki pemahaman intrinsik tentang kurikulum atau kebutuhan spesifik Anda. Berikan informasi kontekstual yang relevan. Target Audiens: Siapa peserta didik yang akan menggunakan modul ini (kelas, karakteristik umum). Tingkat Detail: Seberapa mendalam atau luas materi yang Anda inginkan. Gaya Bahasa: Formal, akademik, semi-formal, naratif, informatif. Batasan: Jumlah kata, format tertentu (misalnya, poin-poin, paragraf). Kurikulum: Jika ada referensi kurikulum tertentu (misalnya, Kurikulum Merdeka, indikator CP). Contoh Prompt yang bagus : “Sebagai guru Fisika kelas XII SMA dengan Kurikulum Merdeka, saya ingin mengembangkan bagian ‘Penerapan Hukum Kirchoff dalam Rangkaian Listrik’ untuk modul ajar. Materi ini ditujukan untuk peserta didik yang sudah memahami dasar-dasar listrik. Buatkan penjelasan materi yang ringkas namun komprehensif, diikuti 3 contoh soal HOTS beserta pembahasannya. Gunakan bahasa yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.”
Gunakan Peran. Menetapkan peran untuk AI dapat membantu menghasilkan output yang lebih sesuai dengan kebutuhan. Contoh Prompt: “Bertindaklah sebagai seorang ahli pedagogi yang inovatif. Saya membutuhkan ide-ide aktivitas interaktif untuk topik ‘Puisi Rakyat’ di kelas X SMA. Aktivitas ini harus mendorong kolaborasi dan pemikiran kritis peserta didik. Berikan minimal 3 ide.” Prompting adalah proses iteratif. Jangan ragu untuk memodifikasi prompt berdasarkan output awal AI. Jika hasilnya tidak sesuai, tanyakan “Mengapa kamu berpikir demikian?” atau berikan instruksi korektif seperti “Perbaiki ini dengan menambahkan…”, “Hapus bagian itu…”, atau “Fokuskan pada aspek…”.
Integrasi Etika dan Prompting dalam Praktik Nyata
Menerapkan etika dan prompting yang efektif dalam penyusunan modul ajar, mulailah dengan Kerangka AI, akhiri dengan Sentuhan Manusia: Gunakan AI untuk draft awal, ide, atau bagian-bagian rutin. Namun, setiap modul harus melalui proses revisi dan penyesuaian intensif oleh guru. Tambahkan pengalaman pribadi, anekdot, atau kearifan lokal yang hanya bisa diberikan oleh seorang guru. AI sebagai Mitra Kolaboratif: Posisikan AI sebagai asisten cerdas, bukan pengganti peran guru. Kolaborasi ini berarti guru tetap memegang kendali penuh atas arah dan substansi pembelajaran. Pengembangan Kompetensi Digital Guru: Guru perlu terus mengasah kemampuan literasi digital, termasuk pemahaman tentang cara kerja AI, potensi dan batasannya, serta cara prompting yang efektif. Diskusi dan Berbagi Praktik Baik: Komunitas guru dapat berbagi pengalaman, prompt yang berhasil, dan tantangan etika dalam penggunaan AI. Ini akan memperkaya pemahaman kolektif.
AI adalah alat revolusioner yang memiliki potensi besar untuk mentransformasi cara guru menyusun modul ajar, menjadikannya lebih efisien, relevan, dan menarik. Namun, potensi ini hanya dapat direalisasikan sepenuhnya jika diiringi dengan pemahaman etika yang kuat dan keterampilan prompting yang mumpuni. Guru-guru SMA/MA memiliki peran krusial dalam mengintegrasikan teknologi ini secara bertanggung jawab, memastikan bahwa setiap modul ajar yang dihasilkan tidak hanya berkualitas tinggi secara akademis, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan inklusivitas.
Dengan memahami dimensi etika dan menguasai seni prompting, guru dapat memanfaatkan AI sebagai mitra cerdas yang memberdayakan mereka untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik, sekaligus membebaskan waktu dan energi untuk fokus pada aspek-aspek esensial dari pendidikan: membimbing, menginspirasi, dan membangun koneksi manusia. Masa depan pendidikan yang terintegrasi AI ada di tangan kita, dan adalah tanggung jawab kita untuk membentuknya menjadi masa depan yang cerah dan etis.(Source : Makalah dalam kegiatan Workshop KKM di Blora Juli 2025. Penyaji : Dr. Mahbub Alwathoni, M.Si).


Terimakasih atas pencerahannya, salam guru penggerak NTB
Ijin share berbagi ya, https://www.youtube.com/@wartapendidikan
I геally like reading an article that will make people think.
Also, many thanks for allowing for me to comment!
Look at my website digital banking